Friday, 20 March 2015

Dialog Antaragama dan Antarbudaya @ KAICIID



by Rasmi Silasari
 Sebagai ibukota yang terletak di tengah Eropa (cek sendiri kalau nggak percaya), Wina merupakan lokasi mangkal favorit bagi organisasi dan institusi internasional. Selain markas PBB—atau UN lebih hematnya—yang saking luasnya sampai disebut ‘city dan OPEC (Organisation of the Petroleum Exporting Countries) yang Indonesia sudah bukan anggota lagi sejak 2008, Wina juga menjadi tuan rumah bagi KAICIID atau ‘King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialog.

Organisasi ini bukan cuma punya nama yang panjaaang tapi juga memiliki tujuan mulia: sebagai wadah dialog antaragama dan antarbudaya demi terwujudnya perdamaian dunia (yang sering disebut-sebut oleh mbak-mbak peserta Miss Universe).

—kelihatan garang banget nggak sih bangunannya, lokasinya dekat dengan Börse dan Schottenring
Gimana gitu ‘Interreligious and Intercultural Dialog’ bisa nyambung sama perdamaian dunia?


Ya contohnya kamu punya pohon mangga, akarnya di kebonmu tapi tumbuhnya belok-belok ke kebon tetangga. Walhasil sang tetangga yang kebagian pahitnya mesti bersihin daun yang rontok dan kebagian manisnya juga dari mangga yang jatuh. Terus kamu protes deh soal hak milik si mangga tersebut.
Eh ini kan resminya pohon gue kenapa jadi situ yang makanin mangganya?’, ‘Ya iya lah yang nyapuin daunnya juga gue!’, ‘Kok gitu sih kan akarnya ada di area gue!!’, ‘Makanya mas kalo tanem pohon bilangin dong jangan nyasar-nyasar ke kebon orang!!!’, ‘Lo menghina Angie (red: nama si pohon tsb)??!*LEMPAR-LEMPARAN SANDAL*.

Walaupun seru sayangnya perang sandal nggak akan menyelesaikan masalah. Dalam hal ini lah dialog berperan besar. Kalau sama-sama duduk, ngobrol dan mengerti masalah satu sama lain kan lebih adem mencari jalan keluarnya. Baru sengketa antarkebon aja bisa bikin geger sekampung. Apalagi kalau konflik antaragama dan antarbudaya?

Mending kalau masih dalam satu wilayah, kalau perseteruannya lintas negara terus lempar-lemparan sandal rudal?? Maka dari itu KAICIID bermisi untuk memfasilitasi segala bentuk dialog antaragama dan antarbudaya untuk mencegah berkembangnya konflik menjadi ‘lempar-lemparan sandal’ dalam skala yang lebih brutal.

infografik konflik antaragama di USA yang dirangkum organisasi Tanenbaum
Awal mula terbentuknya KAICIID adalah inisiatif mewujudkan dialog global yang disampaikan pada Islamic Summit di Mekkah tahun 2005 dan diteruskan oleh almarhum King Abdullah Bin Abdulaziz pada pertemuan dengan Paus Benedict XVI tahun 2007.


Setelah beberapa konferensi di Mekkah, Madrid, Wina dan Geneva, para peserta menyepakati perlu dibentuk suatu lembaga resmi yang mewadahi aktifitas dialog global ini. Maka pada Oktober 2012 para negara pendiri (Arab Saudi, Austria dan Spanyol) menandatangani perjanjian pembentukan KAICIID di Wina.

Kemudian pada November 2012 KAICIID meresmikan kantor pusat yang terletak di daerah Schottenring. Dalam kurun waktu 2 tahun, KAICIID menyelenggarakan konferensi internasional antar-pemuka agama pada November 2014 di Wina. Konferensi dengan tema “United against Violence in the Name of Religion” ini menghimpun saran, inisiatif dan pernyataan dari para peserta dalam gerakan melawan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

—KAICIID menekankan pentingnya bertukar informasi antaragama dan antarbudaya untuk memupuk toleransi seperti  yang dilakukan the historic world’s travellers: Marco Polo, Zheng He & Ibn battuta (foto: KAICIID)

Selain konferensi antar-pemuka agama, KAICIID juga menyelenggarakan fellowship (ini nggak ada hubungannya dengan misi bawa-bawa cincin ke gunung berapi) yang bertujuan membekali para aktivis dan akademisi keagamaan dari berbagai agama dan bangsa dalam pengembangan dialog antaragama dan antarbudaya di daerah masing-masing.

KAICIID International Fellows Programme periode 2015-2016 diadakan di Wina selama seminggu (13 – 20 Februari 2015) yang dilanjutkan selama setahun secara online dan evaluasi di akhir tahun kembali di Wina. Sebanyak 20 peserta mengikuti fellowship ini yang merepresentasikan 5 agama (Buddha, Hindu, Kristen, Islam dan Yahudi) dan 17 negara (Arab Saudi, Austria, Guatemala, India, Indonesia, Inggris, Irak, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sri Lanka,  Thailand, Turki, Uganda, USA, Venezuela dan Yordania). Oho, rupanya ada juga perwakilan dari Indonesia!

—kata beliau-beliau ini Indonesia adalah negara yang sangat diperhatikan karena keragaman agama dan budayanya; menarik tapi juga rawan konflik (foto: KAICIID)

Peserta dari Indonesia yang mengikuti fellowship periode 2015-2016 ini adalah Pak Yusuf dan Bu Wiwin. Pak Yusuf adalah aktivis dari ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) yang sudah menerbitkan empat buku dan kerap memberikan workshop mengenai toleransi antarumat bergama. Selain mendapatkan dua gelar master dari UI (Program Studi kajian Timur Tengah dan Islam) dan ICAS London (Master of Philosophy and Islamic Mysticism) beliau juga menerima beasiswa dari Vatikan untuk mendalami interreligious studies di tiga universitas di Italia.  

Bu Wiwin juga seorang aktivis dari Institut DIAN/Interfidei yang berpusat di Yogyakarta. Beliau sudah sangat lama (15 tahun!) berkecimpung dalam kegiatan dialog antaragama dan turut berperan dalam mengorganisir sejumlah konferensi nasional. Bu Wiwin mendapatkan gelar MA dari UIN Sunan Kalijaga (Hubungan Antaragama) dan juga mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
—acara penutupan KAICIID International Fellows Programme


Selama di Wina Bu Wiwin pernah menginap di rumah penulis (yang berakhir penulis ikutan nginep di hotelnya Bu Wiwin karena kepo ;p—‘BREAKFAST BUFFET DI HOTEL CUY!’ pikirku dengan penuh semangat ‘khas mahasiswa’) yang berbuah manis undangan dari Bu Wiwin yang baik hati untuk ikut hadir di acara penutupan.

Yah, sebenarnya yang diundang adalah WG penulis, Dr. rer. nat. Ningrum, secara beliau yang berdedikasi nungguin si Ibu datang, masak-masak dan mengantarkan Bu Wiwin ke mana-mana.

Alhamdulillah karena sang Dr. rer. nat. Ningrum mencari teman untuk datang ke undangan tersebut akhirnya penulis pun kebagian rejekinya~ Setelah lama penasaran seperti apa dalamnya gedung yang depannya sangar ini akhirnya bisa masuk juga! Sayangnya penulis tidak sempat foto-foto arsitektur dan interior di dalam karena keasikan cemal-cemil dan foto narsis.
 —bukan orang Indonesia kalau nggak foto-foto, haha! Bersama Dr. rer. nat. Ningrum, Bu Wiwin dan Pak Dody sebagai undangan perwakilan dari KBRI

Terlepas dari cemal-cemil yang bikin nggak sempat foto-foto tersebut, hari itu tetap ditutup dengan makan malam di all-you-can-eat & pay-as-you-wish favorit di daerah Schottentor: Deewan. Mohon diperhatikan bahwa ini semata-mata untuk kepentingan wisata alias menunjukkan pada Bu Wiwin tempat makan di Wina yang enak, halal, murah dan banyak (buat yang belum pernah ke sini: SITU KEMANE AJE), jadi bukan karena penulis nggak bisa berhenti makan dan nggak bisa nolak traktiran (terima kasih banyak Bu Wiwin!).
—terima kasih banyak Bu Wiwin untuk dinner-nya, dan Dr. rer. nat. Ningrum untuk fotonya :D

*Setelah ngebahas makanan jadi lupa inti artikelnya apa* Ah ja, jadi kalau suatu waktu ada yang punya konflik antar-apapun yang pelik, baiknya jangan dihadapi dengan anarkisme meskipun sebatas perang sandal.

Hadapi konflik dengan rasional dan diskusi, jangan terhasut ngelempar sandal hanya karena terlihat seru dan seneng lihat lawannya kesakitan :(.

Ambil kursi, bikin Melange, suguhin Sachertorte, dan mulai dengan ‘Das Wetter ist gut oder?’ *lho*. Selamat berdialog dengan asik :)

No comments:

Post a Comment