Monday, 20 April 2015

PhD Story: Nurfitriani (Graz)

by: Rasmi Silasari

Imut penampakannya, lembut suaranya dan manis wajahnya (maaf kalau agak gombal tapi memang bener—tanya aja suaminya ya kan Ken); itulah Nurfitriani, biasa disapa Fitri, mahasiswi tahun pertama S3 Molecular Biotechnology TU Graz. Walaupun tergolong muda banget, lahir 1 Mei 1991 di Bandung, Fitri sudah menyelesaikan studinya di Kimia ITB dan melanjutkan studi doktoral di Graz, Austria. Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, "semangat banget sih si eneng ini studi S3 di usia yang belia? memang molecular biotechnology itu segitu menyenangkannya kah?" Jawabannya 'iya', karena kapan lagi kalian bisa punya piaraan banyak yang bisa diutak-atik gennya tanpa ditodong PETA? Tapi mungkin lebih tepatnya lagi: 'iya', karena kapan lagi bisa kuliah di Eropa barengan suami tercinta? ;p


 
 Nggak salah toh kalo aku bilang imut & manis :D

Sekelumit intermezzo tentang Fitri: (preventive measure untuk kalian yang siap-siap mau naksir) kalau ada yang pernah kenal Keni lulusan S3 Kimia di Uni Wien hai Ken, beliau ini adalah Pak Fitri sejak tahun 2013 lalu. Demi menyusul sang suami inilah salah satu motivasi Fitri mencari S3 ke Austria (motivasi lain pasti untuk riset dan sains dong! *background music Star Wars*). Setelah alhamdulillah mendapat jawaban positif dari pembimbing di TU Graz dan pendanaan beasiswa OeAD, ternyata Pak Fitri yang sudah lulus tahun 2014 hai lg Ken mendapatkan posisi postdoc di Uni Helsinki. Berhubung beliau nampaknya betah di sana, sepertinya kecil kemungkinan akan berkehidupan di Austria lagi dalam waktu dekat.... Yah, tapi paling nggak lumayan lah ya masih bisa naik bus seharian kalau mau saling berkunjung~

Hmmm ini kenapa jadi ngomongin Pak Fitri sih gmn ini Ken. Kembali ke Fitri betulan, kalau penasaran dengan topik riset dan kehidupannya di Graz, silakan simak wawancara berikut!


  Jalan-jalan dengan anak-anak Erasmus

1. Riset Phd-nya tentang apa sih Fit?
Programnya lebih ke arah genetic engineering di ragi, jadi memodifikasi sel agar menghasilkan suatu produk (protein, enzyme,dll) atau sistem sel yang diinginkan. Kerjaannya lebih ke arah cloning, mutasi gen, menghilangkan dan menambahkan suatu gen ke dalam genome suatu makhluk hidup (ragi).

2. Sedang dalam tahapan apa sekarang? 
Untuk saat ini masih literature study dan magang di project senior agar lebih tahu teknik yang umum digunakan di lab seperti apa.

3. Tantangan, hambatan dan aral-melintang yang sudah ditemui?
Tantangannya banyak sih, hehe. Yang pertama itu masalah adaptasi, karena ini baru pertama kali saya jauh dari keluarga dan sekalinya pergi dari rumah langsung jauh banget. Yang kedua perbedaan culture di sini dengan di Indonesia, kadang suka ngerasa kikuk sama temen-temen di lab, apalagi kalau ada party... hehe. Mulainya malam banget dan ngobrolnya lama banget (nggak kuat nahan ngantuk!). Tapi alhamdulillah mereka baik2 dan care. Yang terakhir kualitas penelitian di sini jauh banget dengan di Indonesia. Awal-awal baca paper banyak nggak ngertinya, ngerasa nggak tau apa-apa. Alhamdulillah lambat laun bisa mengikuti. Sekarang setelah 4 bulan baru bisa mulai enjoy sekolah di sini.

4. Ada suka dan duka atau pengalaman menarik selama 4 bulan ini?
• Suka:
Banyak ilmu baru yang didapatkan, soalnya untuk biotechnology di ragi, lab saya yang sekarang termasuk salah satu lab yang leading di bidang tersebut di dunia. Dulu waktu sekolah di Indonesia cuma tahu sebatas teori. Di sini karena fasilitasnya bagus banget, jadi nggak cuma tahu teori aja tapi juga penggunaan dan aplikasinya seperti apa. Di lab yang sekarang hampir semua mahasiswa S3 menghasilkan paten, semoga saya juga bisa menghasilkan paten. Aamiin.

Dulu di Indonesia penelitiannya ke arah biotechnology ragi juga. Setelah ikut kuliah dan seminar di sini ternyata penelitian yang saya lakukan di Indonesia dulu banyak salahnya, hohoho... Ini sebagai proses meningkatkan kuaitas diri juga, karena setelah menjalani sekolah di luar negeri ternyata nggak semudah yang dibayangkan—butuh kesabaran dan persistensi tinggi, hehe.

• Duka:
Profesor saya sibuk banget, jadi susah banget untuk diskusi. Kalau mau diskusi biasanya butuh 2 minggu untuk buat appointment. Kalau dulu ada senior yang men-training dan bisa dijadikan teman diskusi projek di lab, tapi sekarang senior tersebut sudah lulus bulan Februari lalu dan postdoc di Australia. Jadi sekarang dituntut lebih mandiri lagi.

• Pengalaman menarik :
Sebulan lalu saya ambil lab course dan selama lab course saya ngerasa 'wow' banget karena profesor sendiri terjun langsung ke lab. Beliau sendiri yang ngasih briefing dan mengawasi selama praktikum berlangsung (3 minggu, dari jam 12 siang sampai 7 malam) dan asisten praktikumnya postdoc semua. Ngerasa 'wow' karena dulu di Indonesia biasanya dosen nggak terjun langsung seintensif itu di mata kuliah praktikum, biasanya cuma pengawas di awal-awal praktikum saja.

5. Sudah ada hasil dari progress sekarang?
Belum ada karena masih di studi literatur. In sya Allah bulan depan udah mulai experiment di lab.

6. Lalu apa nih untuk rencana ke depannya?
Kalau setelah S3 ini kayaknya mau rehat dulu sebentar, pengen punya dedek bayi dulu. Kalau diijinkan suami pengennnya postdoc di negara dan kota yang sama dengan suami, hehehe...

7. Di Graz ada kegiatan rutin selain studi?
Apa ya? Paling di Graz suka ikut pengajian ibu-ibu 2 minggu sekali. Terus ada rencana ambil kursus Jerman bulan depan.

Bersama ibu-ibu pengajian di Graz

Terima kasih banyak ya Fitri, sudah mau diwawancara oleh blog PPIA! Jangan kapok ya nampang di artikel blog ;D Semoga studinya lancar, eksperimennya sukses, harapannya tercapai, makin betah di Graz dan nggak kejar-kajaran negara lagi dengan suami iya nggak Ken. Aamiin!

No comments:

Post a Comment