Monday, 10 August 2015

Bincang Rame Komunitas (calon) Doktor (Bicara Kotor) di Austria

by Redaksi PPI


Dok. KBRI Wina

Dalam rangkaian semangat peringatan 70 tahun Kemerdekaan RI , Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Austria didukung oleh Kedutaan Besar RI di Wina pada sabtu (1/8) menyelenggarakan acara Bincang Rame Komunitas Doktor Austria. 

Acara ini sendiri merupakan inisiasi awal dari komunitas kandidat doktor Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Austria sebagai ajang tukar pikiran menyikapi perkembangan di luar keilmuan yang sedang digeluti masing-masing. 

Saat ini terdaftar 38 orang kandidat doktor tersebar di seantero Austria. Para cendekia ini tersebar di beberapa negara bagian seperti di Wina, Graz, Leoben, Linz, Klagenfurt dan Innsbruck. Bidang yang digeluti pun bermacam-macam, mulai dari bidang sosial seperti filsafat dan manajemen hingga di bidang sains terapan seperti informatika, kimia, kedokteran, mesin, sipil, pertambangan, industri, pertanian, dan arsitektur. 

Keberagaman ini tentu saja memiliki nilai-nilai positif yang harapannya nanti dapat diterapkan sekembalinya di tanah air. Lebih khusus lagi kegiatan ini dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI yang ke-70, dengan bertemakan “Implementasi Semangat 70 tahun Kemerdekaan RI dalam Keilmuan” agar para kandidat doktor ini sudah bisa mengarahkan fokus penelitiannya nanti akan diarahkan kemana guna mendukung pembangunan bangsa. Selain itu, kegiatan ini harapannya mampu mendorong percepatan penyelesaian studi. 

“Semoga acara semacam ini dapat terus berkesinambungan pelaksanaanya sehingga memantik semangat untuk terus mengembangkan diri diantara calon doktor khususnya semangat untuk terus belajar bagi sarjana dan master”, sambut Ketua PPI Austria, Syifa Nurhanifah.

Dok. KBRI Wina
Tampil sebagai pembicara utama dalam kesempatan ini Duta Besar berkuasa penuh untuk Austria, Slovenia dan PBB di Wina, HE Rachmat Budiman. Dari komunitas doktor tampil lima mahasiswa, Arlavinda Rezqita, Fajar Juang Ekaputra, Peb Ruswono Aryan, Rasmiaditya Silasari dan Yusfan Adeputera Yusran. Masing-masing membawa materi yang berkaitan dengan keilmuan yang digeluti.

Di awal sesi, Fajar membuka dengan presentasi mengenai pentingnya Ontology dalam pengolahan informasi. Salah satu kajian dalam bidang ilmu informatika ini dikembangkan olehnya untuk mempermudah dalam pengaturan sematik web. Sesi selanjutnya diisi oleh Arlavinda dengan penelitiannya tentang baterai Li-ion selama ini di AIT. Silikon menurutnya dapat memperpanjang kemampuan baterai Li-ion bekerja. Giliran selanjutnya oleh Peb dengan presentasi mengenai pengaturan data untuk memudahkan pengelompokan informasi. Dengan penelitiannya, dia berharap dapat mengembangkan pengelolaan informasi agar lebih terintegrasi. 


Dok.KBRI Wina

Setelah coffe break, giliran Rasmiaditya dengan mempresentasikan penelitiannya tentang limpasan air yang berguna bagi lahan pertanian. Dalam penelitiannya, Rasmi melihat pola limpasan air hujan pada area tanah yang miring dengan harapan dapat mengontrol erosi dan sedimentasi. Setelah itu, materi yang dibawakan berkaitan dengan upaya konservasi rumah tradisional di Indonesia. Materi yang dipresentasikan Yusfan ini mengupas hasil penelitiannya selama di Austria yang mengamati banyaknya open-air museum di sana dan melihat ini sebagai kesempatan untuk coba diterapkan di Indonesia demi menyelamatkan rumah tradisional yang faktanya di beberapa daerah di tanah air terancam rusak dan punah. 

Di penghujung acara, tampil sebagai pembicara Dubes RI berkuasa penuh untuk Austria, Slovenia dan PPB di Wina, Rachmat Budiman memaparkan tentang implementasi keilmuan terhadap pembangunan bangsa. “Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana para calon doktor ini mempresentasikan sejauh mana ilmu yang didapat dan juga sebagai ajang pertukaran informasi sehingga dapat diintegrasikan dengan kebutuhan bangsa saat ini”, ujar Dubes Rachmat Budiman dalam presentasinya.

Dok. KBRI Wina
Acara ini dihadiri oleh masyarakat dan mahasiswa yang tinggal di Austria. Selain itu dihadiri pula oleh akademisi dari beberapa universitas dan masyarakat Austria yang tergabung dalam Austria Indonesia Society (Perhimpunan Masyarakat Indonesia – Austria). “Semoga acara ini menjadi agenda yang berkelanjutan”, ujar Prof. A Min Tjoa, salah satu audiens yang juga direktur institut sistem interaktif dan teknologi perangkat lunak di Vienna Institute of Technology. 

No comments:

Post a Comment