Wednesday, 25 February 2015

Selamat kepada Atlet Badminton Indonesia!





by Evi Mulyani

Sabtu, 21 Februari 2015, saya dan rekan saya Rafika (dan tentunya para supporters Indonesia) menyaksikan hebatnya olahragawan tanah air kita yang berhasil mendapatkan kemenangan di beberapa kategori di ajang Badminton Austrian Open 2015, di Wiener Stadthalle B, Wina.





Bak gladiator di arena pertandingan, para olahragawan kita ini memukau banyak perhatian penonton. Walaupun terlihat manis dan kecil, mereka sangat lincah dan smash-nya sangat bikin kagum!

Pukul 16.30, acara ini dibuka oleh pertandingan Woman Single dengan pemain dari Hongkong (Cheung Ngan Yi) dengan lawannya dari Bulgaria (Linda Zetchiri), yang dimenangi oleh pemain dari Bulgaria. Kemudian dilanjutkan dengan pertandingan final Ganda Campuran dimana kedua tim berasal dari Indonesia: Edi Subaktiar - Gloria Emanuelle Widjaja yang mengalahkan Ronald Alexander - Melati Daeva Oktaviani, dengan score 21-18.


Dilanjutkan dengan pertandingan final Ganda Putri, yang cukup mengacu adrenalin para penonton dari tanah air kita, karena olahragawati kita melawan rifalnya yg berasal dari Inggris. Supporters Indonesia semangat memberikan dukungan , dan pasangan Suci Rizky Andini dan Maretha Dea Giovani bisa memenangkan pertandingan ini dengan  score 21-14 dan 23-21.




















Gak kalah menariknya adalah pertandingan Ganda Putra yg juga berasal Indonesia, Fajar Alfian dan  Muhammad Ardianto yang melawan pasangan Inggris Peter Briggs dan  Wolfenden. Untuk kategori ini pun, Indonesia juga berhasil menang dengan skor 23-21, 18-21 dan 21-19.



Walaupun pertandingan berlangsung pada malam hari, tidak menghapus semangat para olahragawan dan olahragawati kita. Dan tidak sia-sia, mereka pun berhasil menggendong kemenangan. Tidak juga menutup semangat para supporter kita yang sangat membara meneriakkan "Indonesiaaaaaaa!“ Sungguh kita sangat banggga melihat prestasi para olahragawan kita ini.

Sekali lagi, selamat kepada para pemenang dan semoga akan terus membawa kebanggaan dan membawa nama harum tanah air kita.











Tuesday, 24 February 2015

Kata Sambutan Ketua PPIA 2015

Servus PPI Austria!

Salam sejahtera bagi kita semua di bulan yang penuh kasih sayang ini.
Senang rasanya kami pengurus PPIA bisa memperkenalkan Media Komunikasi baru yang dimiliki oleh PPI Austria, yaitu Blog dan Newsletter kepada rekan-rekan sekalian.

Selain Web resmi kini PPI Austria memiliki Blog sebagai wadah untuk menuangkan berbagai informasi yang berhubungan dengan pemuda, pelajar, dan masyarakat Indonesia di Austria, namun dengan konten yang bersifat lebih ringan, casual, dan entertaining (soft news). Berbeda dengan website PPIA yang isinya lebih formal dan serius (hard news). 

Sedangkan Newsletter adalah semacam koran atau majalah dalam bentuk online (email newsletter) yang berisikan rangkuman dari liputan-liputan berita yang kami tuliskan di Blog dan Website PPI Austria yang terbit dalam sebulan sekali.

Mengingat keberadaan Anggota yang tersebar diberbagai penjuru Austria, maka kami berharap dengan media-media baru yang dimiliki oleh PPI Austria ini akan bisa menjembatani jurang perpisahan regional antar anggota dan mengoptimalkan komunikasi baik itu antara pengurus dan anggota maupun anggota dengan anggota yang lainnya, serta memperkuat existensi PPI Austria di hati para anggotanya.

Terima kasih saya sampaikan kepada Tim Media, Press dan Kreatifitas (Rafika, Nancy dan Evi) atas dedikasinya mengelola media komunikasi PPI Austria dengan penuh semangat dan motivasi yang besar. Dan tentunya, untuk seluruh tim PPIA 2015, terima kasih banyak atas kerja samanya. Mudah-mudahan kedepannya kita semua tetap kompak dalam berkarya dan berkreatifitas!

Tak terkecuali kamipun sangat terbuka terhadap Ide-ide, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sekalian sebagai sarana kami untuk tetap berusaha optimal dalam menjalankan tugas-tugas kami.
Jadi, bagi yang memiliki Ide dan siap di tuangkan, jangan sungkan untuk hubungi kami, because a creative idea is just an idea until something is done with it. So do something or you are not creative! – Glen Hoffherr -

Salam pemuda-pelajar Indonesia!

Monday, 23 February 2015

How To Survive in Vienna for 'Newbies' part 1

by Arlavinda Rezqita
 
1) How to get from Vienna Airport to the city centre:
Arriving in Vienna International Airport (VIE)  with heavy luggages - even heavier than your body mass, big backpack - not only one, maybe two or three because your Mama tried to put too many supplies to make sure that you are well-fed in Austria. Well, we've been there, done that. At least, I have. Then for sure, you would like to take the convenient way to go from the airport to City Centre.

There are three options : (1) taxi, costs around 40 EUR, 20 minutes, (2) City Airport Train (CAT), costs 11 EUR, also 20 minutes, (3) S-bahn S7, costs 4.40 EUR, 45 minutes. I strongly recommend the last one :P

2) How to find a housing:
Finding a housing in Vienna is not easy, a lil bit time and energy consuming. You should do 'research' to find the one you want - the one which is convenient, strategically located, but affordable. The rent price in Vienna is calculated roughly from the apartment  area (10EUR /1 m2), considered 'cheap' among other capital cities in Europe. Website like willhaben.at, bazar.at, findmyhome.at, and wg-gesucht.de can help you. If you are student, you can contact housing.oead.at.

3) How not to get lost:
You don't have a disorientation problem? Good. You have a smartphone with GPS? Even better. But, maybe you can consider to install app Qando as well. Or you can also take a look on website anachb.at when you would like to get an idea which public transportation you should take. There you can check how to get from point A to B : which line you shoud take, the schedule, the station, and the duration as well. So, no more excuse for being late :P. For the ticket, you can check in winierlinien website.

U-bahn Wien


4) Three magic words in German:
It's ok to arrive in Vienna with A0 German level. However, at least I suggest you to memorize by heart these three magic words in German ; Danke- for Thank you, Entschuldigung for Sorry, and Bitte for Please, aaaand you are gonna be safe! Well, not really if you are hit by a bike on the way. Anyway, Vienna is quite international that most people can speak English. Not all, but at least they are willingly to try :P. Oh Jeah, one more : Gruß Gott - which is basically greeting. You can say it anytime and anywhere (I think so).

5) Where to find Indonesian Store:
Craving for Indonesian snacks or running out Indomie or Indofood seasoning? No stress. You can find them in an Indonesian store 'Toko Sederhana' in Stuwerstraße 27/A/L1, 1020. Just take U2 and get off at Messe Prater... and voila, heaven.

Paraglider Indonesia Menyabet Gelar Terbaik di Liga Paragliding Austria 2014



by Rafika Nurulhuda

Dari hobi melayang-layang di udara akhirnya menjadi juara dan menjelajah langit Austria. Kalau saya bayangkan, seperti menerbangkan layang-layang: perlu ketelitian dan kesabaran dan akhirnya bisa terbang di udara--tapi yang satu ini orangnya ikut terbang!

Paragliding, atau dalam bahasa Indonesianya "paralayang" adalah "olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut)...untuk tujuan rekreasi atau kompetisi" (menurut Mas Wikipedia). Ngomong-ngomong kompetisi, ternyata ada orang Indonesia yang saat ini berdomisili di Klagenfurt, Austria, yang telah memenangi kompetisi paragliding pada tahun 2014 lalu.

Sebut saja Yoshi Pasha (bukan nama samaran). Pada ajang Liga Paragliding Austria 2014, ia berhasil mendapatkan nilai tertinggi sehingga menjadi juara pertama. Not only that, he is the first Indonesian and first Asian to win this award. *claps*

Apa sebenarnya yang dinilai dalam kompetisi paragliding? Apakah ada "kesenangan tersendiri" dalam berlayang-layang di udara? Bagi para adrenaline seekers dan yang tertarik untuk coba, apa syarat untuk menjadi paraglider dan tandem (terbang berdua dengan trainer)?


Olahraga paralayang terinspirasi dari parasut yang digunakan saat Perang Dunia ke-1. Kemudian, bentuk parasut dikembangkan untuk lebih memudahkan melayang di udara, dan dikembangkan lagi untuk rekreasi dan terbentuklah olahraga paragliding. Paragliding World Championships yang pertama diadakan di Kossen, Austria pada tahun 1989. (http://www.circlinghawk.com/history.html)

"Olahraga udara ekstrim yang tidak hanya menuntut kemampuan fisik, tapi juga membutuhkan skill dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi", begitu kata Yoshi.

Walaupun dapat dikategorikan sebagai olahraga ekstrim, bagi paragliders, it is worth the try, karena katanya sih.. kita bisa merasakan kebebasan berpetualang dan pastinya menikmati pemandangan yang indah dengan bird's eye view (atau layang-layang view :p)


Berbagai tempat di Indonesia telah ia jelalahi, diantaranya Danau Toba, Puncak, Majalengka, Parangtritis, Wonogiri, Kemuning, Batu, Nusa Dua, dan Maninjau. Baru-baru ini, langit Austria menjadi saksi kemenangan paraglider Indonesia ini. Berkat bekal ilmu dari Indonesia dan setahun belajar di klub lokal di Klagenfurt, ia qualified untuk mengikuti Liga Paragliding Austria.

"Tahun 2014 saya mendapat beberapa podium dan raihan nilai saya tertinggi di akhir seri, yang menjadikan saya juara 1 di kelas yang saya ikuti dan mendapat trofi Pendatang Baru Terbaik 2014." Kompetisi ini terdiri dari 12 seri di 12 kota setiap tahunnya. "Tapi tahun kemarin karena cuaca kurang mendukung, cuma 4 yang terselenggara." Dari mengikuti ke-4 seri ini, ia mendapat total nilai tertinggi. (http://www.paragleiter.org/)

Ia pun menjadi orang Asia pertama yang qualified di Liga Austria dan orang Asia pertama yang bisa jadi juara 1, dan dilakukan di tahun pertama. Dan hingga saat ini, ia masih tercatat sebagai orang Indonesia dengan rekor terbang paragliding terjauh dalam beberapa kategori, dan berdiri di rank 1 Indonesia pada daftar Paragliding yang dikeluarkan oleh FAI (Badan Olahraga Udara Internasional).


Paragliding memerlukan beberapa disciplines. Yang paling bergengsi dan tingkat kompetisinya tinggi adalah paragliding XC. "Lombanya secara deskripsi hampir sama dengan rally tapi di udara. Start dalam waktu yang bersamaan dan menuju beberapa waypoint yang telah di set sebelumnya via GPS. Menuju finish di titik yang sama, dan dihitung waktu tercepat."

Itulah yang membuat ia menang. Ia juga sering mengikuti kompetisi baik di Austria (HöheWand Pokal, Austrian Open, dan Schmittenpokal) maupun di negara lain, seperti Slovenia (Paragliding Winter Cup, Parastajerka Open, dan Soca Valley Open), Spain (GIN Wide Open), dan Jerman (Hessische Landesmeisterschaft).

Selain itu, paraglider kelahiran Batu, 27 Juli ini memiliki sekolah paragliding yang ber-homebase di Batu. Ia menjelaskan, bahwa untuk bisa menjadi paraglider, perlu training khusus, yaitu mengikuti course basic selama sekitar satu bulan untuk memperoleh lisensi beginner. Dan hasil riset sang penulis di Mbah Google, harga course (di Indonesia) berkisar antara 3 juta sampai 6 juta, tergantung paket yang dipilih (dan setiap sekolah paragliding memiliki harga yang berbeda-beda). Harga perlengkapan komplit sekitar 2000-3000 USD dan ada second hand juga loh (http://gendonsubandono.blogspot.co.at/2006/01/). 

"Di course tersebut akan ada materi teori, groundhandling (mengendalikan parasut di darat), simulasi takeoff-terbang-landing, terbang dengan panduan instruktur, ujian, dan lisensi. Perlengkapan paragliding ada parasut paralayang, harnes, carabiner, parasut cadangan, helm, dan radio komunikasi."


Namun, bagaimana dengan orang-orang yang hanya ingin coba sekali dua kali?

"Paragliding bisa secara instan dirasakan sensasinya melalui tandem, dengan biaya 150€ (Austria) atau Rp.350rb (Indonesia). Jika adrenaline saat tandem dirasakan cukup menarik hati, bisa dipertimbangkan untuk belajar terbang solo. Atau di sekolah paragliding saya di Indonesia, www.ayokitakemon.com", ajaknya.

Terdapat banyak sekolah paragliding di Austria. Tetapi menurutnya yang paling ekonomis adalah belajar melalui klub paragliding. "Di Austria terdapat batas jelas antara sekolah paragliding (profit oriented) dan klub paragliding (non profit oriented). Ada ratusan bahkan mungkin ribuan tempat start paragliding di Austria dengan pegunungan Alps nya. Carinthia juga memiliki banyak area terbang, tetapi ada beberapa yang populer bagi para paraglider: Emberger Alm - Gerlitze - Radsberg - Goldeck - dan lain-lain." Ia pun gabung dengan komunitas paragliding di Indonesia yang bernama PGPI (Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia) dengan nomor anggotta PG 0823.



Olahraga yang ia tekuni selama 8 tahun ini membawa hasil yaitu membawa nama Indonesia di luar negeri dan pastinya banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga dan tak terlupakan.

"Di Gemona-Italy 2014, saat harus mendarat, di lokasi yang jauh dari mana-mana dan membutuhkan waktu 4 jam hiking dengan bantuan GPS ke desa terdekat, sambil membawa tas parasut 20 kg, sendirian, malam hari, enggak ngerti bahasa Itali, duit tinggal 20 EUR," ceritanya.

Selain itu, pastinya lebih banyak fun, seperti melihat panorama dan landscape yang tak bisa dilihat dari darat, bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dan background, berdiri di podium, dan berpetualang seru di setiap event.



"Mohon dukungan dari pembaca.. doa, like, follow, apa aja diterima dengan senang hati untuk musim kompetisi 2015."

Yuk, mari, kita doakan dan dukung Yoshi Pasha!

Great Adventures, Happy Landings!



Referensi foto-foto:
FB Paragliding Indonesia in Europe
@yoshipasha (instagram)
yoshipasha.webs.com

Friday, 20 February 2015

Mengenal Pengurus PPI Austria 2015

 Horaaayy! Akhirnya terbentuklah pengurus inti PPI Austria yang baru dan akan bekerja selama setahun full dari Januari sampai akhir Desember 2015. Untuk mengenal lebih dekat siapa-siapa sih yang akan bekerja selama setahun ini, yuk kita pantau profil lengkap dari kawan-kawan kita ini.


Syifa Nurhanifah

Jabatan : Ketua PPI Austria
Study: Bachelor Soziologie - Universität Salzburg
Hobby: nonton theater, rekreasi, experiment di dapur ;)
Motto Hidup: Der Weg ist das Ziel (Jalan adalah Tujuan) – sebelom tujuan asli tercapai, kita   nikmatin dulu dong perjalanannnya, yuuuk marriii
Pandangan terhadap PPI:
tempat main aja sih, kenalan sama orang terus makan-makan :D



Yusfan Adeputera Yusran (Ifan)

Jabatan: Wakil Ketua PPI Austria
Study: Doktoratstudium Architektur von Technische Universität Wien
Hobby: Badminton, travelling   
Motto: Work hard, play hard






Paulina Isabella

Jabatan: Bendahara
Study: Prayner Konservatorium
Hobby: makan, baca buku, nonton film
Kesan-kesan tentang PPI:
Saya belum tahu banyak tentang PPI Austria, tapi saya mengharapkan kalau PPI Austria bisa menjadi organisasi yang mampu mengakrabkan Student di Austria, dan PPI bisa menjadi platform bagi para Student untuk menonjolkan hobi, prestasi, maupun karya-karyanya.


Rasmiaditya Silasari

Jabatan: Sekretaris I
Hobby: Baca, nonton bioskop, jalan kaki
Motto: Ngeluh nggak menyelesaikan masalah, apalagi marah-marah
Study: S3 Hidrologi, TU Wien
Pandangan tentang PPI:
Jangan ragu-ragu untuk kasih saran atau pertanyaan ke PPIA. Kalau belum direspon artinya kita juga lagi bingung jawabnya gimana. Mohon diingatkan seandainya kita kelamaan mikir. Kalau masih belum ada jawaban juga mohon diingatkan lagi kalau sebelumnya sudah diingatkan. Harap mafhum namanya juga manusia mungkin kita sudah lupa sebelumnya lagi mikirin apa. Selamat belajar/bekerja/kuliah/nge-lab/nyanyi/main musik/sambilan/magang/ngajar/babysitting/Deutschkurs/konferensi/jalan-jalan/cari sekolah/ngurus visa *semoga sukses* dan terima kasih banyak sudah mampir ke blog PPIA (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚


Arko Jatmiko Wicaksono

Jabatan: Sekretaris II
Study: S3 di Univ. Innsbruck - Centrum fuer Chemie und Biomedzine.

Topik riset terkait dengan phytomics, yakni semacam ilmu tentang proteomics, genomics, metabolomics namun spesifik berfokus pada tumbuhan obat khususnya untuk penyakit tropis dan terkoneksi dengan industri phytoneering (phyto engineering) di Jerman, Bionorica.

Hobi: travelling

Motto: Sains dan bisnis bagai pria dan wanita, saling membutuhkan dan tak bisa terpisahkan.

Pandangan terhadap PPIA: Mari, jadikan PPI Austria sebagai pemain-kunci-mediasi, untuk komunitas Eropa dan Indonesia.





Arlavinda Rezqita
Jabatan: Koord. Divisi Pendidikan
Study: Technical Chemistry, TU Wien
Hobby: traveling, membaca, olahraga



Sri Yuliyanti

Jabatan: Koord. Divisi Sosial Budaya
Study: Abendgymnasium – Graz
Hobby: Bernyanyi
Motto: Pengetahuan adalah kekuatan






Terra Rimba

Jabatan: Koord. Divisi Sosial Budaya
Study: Klavier Podium/Konzert – Unversität für Musik und darstellende Kunst Wien
Hobby:  baca buku, dengerin musik
Motto:  Think big and dream bigger
Pandangan terhadap PPI: dapat menjadi sarana pemersatu untuk pemuda dan pelajar Indonesia di Austria



Nancy Simanjuntak

Jabatan: Koord. Humas dan Pers
Hobby: hmm... fotografie, reading (boong bangeeet ),
motto: when there's tomorrow, why should I finish it today?
study: Ilmu komunikasi (master) di Uni Salzburg






Rafika Nurulhuda

Jabatan: Koord. Divisi Media dan Kreatifitas
Hobby: Nulis, jalan-jalan, meeting new people
Studi: Media and Convergence Management di AAU Klagenfurt
Motto: "If you don't upgrade someone's life, you don't live."
Pandangan tentang Austria:
PPI Austria adalah tempat yang dapat memberikan pengalaman berorganisasi, pembelajaran tentang leadership dan time management, dan saya pun bisa menyalurkan hobi menulis saya :)




Evi Mulyani

Jabatan: Koord. Divisi Media dan Kreatifitas
Hobby: Jalan - jalan liat sesuatu yg baru, olahraga ,,,, Heheheh kadang absen juga kalo banyak tugas,,,wajar ya ^^ Hmhmhm selebihnya apa ya? Nanti tanya langsung aja ( kalo ada yang nanya) hehehe
Study: International Business College – Vienna
Motto: don't be silly, die beste Zeit ist jetzt ;-)
Pandangan terhadap PPI:
PPI tempat berkumpul bareng temen seperantauan, yang pasti seperjuangan juga. Disini kita juga belajar berorganisasi, di samping study kita bisa menyempatkan waktu bertukar pikiran dengan yg lain.Pokoknya sharing is caring disini.

Phd Story: Andriati Ningrum (Wien)

by Rafika Nurulhuda


Beberapa hari yang lalu, salah satu mahasiswi S3 di Wina telah berhasil lulus dissertation defence di Institute of Food Science BOKU, dalam program "Laboratory of Food Chemistry". Perempuan kelahiran Jakarta 13 Juni ini menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman menulis disertasinya, yang berjudul "Flavor Compounds from Carotenoids Oxidation in Pandan Leaves (Pandanous amaryllifolius Roxb.)". Bagi orang awam seperti saya (sang penulis), judul tersebut membuat saya bertanya-tanya, apa itu Carotenoids Oxidation? Mari kita tanya Dr.rer.nat Andriati Ningrum, karena terdengarnya sangat menarik. Jangan sampai kita pahamnya hanya ‘pandan leaves’ saja ;) 


Btw, selain sibuk penelitian, ia juga sempat menjadi guru di salah satu sekolah internasional di Wina loh, mari kita tanya ibu guru ini tentang S3-nya!

Bisa dijelaskan disertasinya tentang apa dan apa yang dimaksud dengan "carotenoids oxidation"?
Wahh haha, jadi ingat waktu dissertation defence, ada pertanyaan itu... 
Aku ingin promote salah satu biodiversity dari Indonesia, dan pandan itu kan salah satu tanaman indigenous dari Indonesia, native dari Indonesia, dengan nama latinnya Pandanus amaryllifolius. Nama'pandan' nya kan dari Indonesia walaupun daun pandan itu bisa juga ditemukan di beberapa negara lain, seperti di Malaysia, Thailand, Vietnam, dan sebagainya, tapi genusnya itu asli dari Indonesia. 

Jadi aku ingin mengangkat salah satu tanaman native dari Indonesia. Fungsi daun ini banyak sebenarnya, dari zaman nenek moyang digunakan untuk pewarna, untuk pewangi, bahkan untuk improve aroma beras. Beras biasa jadi bisa punya aroma seperti premium rice, seperti Jasmin.

Ini sebenarnya lumayan menarik loh untuk diinvestigasi lebih lanjut, terutama kaitannya dengan food fraud. Jadi kan sekarang banyak sekali kriminalitas dalam bidang pangan. Mungkin Rafika pernah dengar yang kebab, dibilangnya ini Kebab Huhn, kebab chicken tapi ternyata dagingnya daging kuda yang sudah tua, kuda pacuan yang sudah banyak disuntik berbagai macam obat untuk meningkat stamina mereka untuk pacuan, bahaya yaa, ya itu food fraud. 

Mungkin di Indonesia, saya pernah dengar beras biasa disimpan dengan pandan tapi dia bilang "Oh ini beras Cianjur", yang harganya bisa jauh lebih tinggi. Kalau ini dilanjutkan risetnya cukup menarik juga, bagaimana membedakan beras biasa yang disimpan dengan daun pandan dengan beras premium rice, bagian apa yang bisa dilihat untuk membedakannya. Dan ternyata fungsinya bisa sebagai anti-insect loh. Ternyata kecoa itu enggak suka sama daun pandan dan ini alami. Kalau back to nature kan lebih sehat.

Jadi, disertasi topikku judulnya adalah
"Flavor Compounds from Carotenoids Oxidation in Pandan Leaves". Melihat fungsi-fungsi dari daun pandan tadi, saya ingin melihat bagaimana aroma daun pandan terbentuk dari pewarna alami yang jenisnya carotenoid. Mungkin kalau misalnya Rafika pergi ke DM atau BIPA, banyak suplemen carotenoid, itu sebenarnya salah satu jenis pewarna alami yang banyak ditemukan di sayur, buah, bahkan di orange juga ada, di salmon juga ada, dan itu bagus banget untuk antioxidant. 


Kalau dingin gini ya, antioxidant bagus untuk meningkatkan imunitas kita dari beberapa senyawa yang berbahaya. Untuk mata, misalnya dari kecil suka makan sayur atau buah, mungkin bisa menurunkan kemungkinan untuk terkena mata minus-- haha mungkin aku dulu kurang makan buah atau sayur jadi harus pakai kacamata tebal...


http://manfaat.co.id/manfaat-daun-pandan

Nahh... untuk "carotenoid oxidation" sendiri, jadi dari oksidasi si pewarna ini bisa menghasilkan aroma. Bagaimana aroma dalam makanan itu bisa terbentuk dari pigmen alami dari daun ini. "Carotenoid oxidation" itu oksidasi dari pewarna alami yang bisa menghasilkan aroma. Bagaimana aroma daun pandan bisa terbentuk dari carotenoid, salah satu jenis pewarna dalam daun pandan itu.

 Waktu itu aku ikut seminar tentang Flavour and Fragrance. Flavour lebih orientasi ke aroma makanan, dan fragrance itu aroma untuk kosmetik. Sebenarnya beberapa sumber dari Indonesia, seperti kayu cendana, banyak di expose di seminar itu. Memang kita banyak biodiversitas cuman sayangnya pemanfaatannya kurang. Ini alasan kenapa aku ingin menonjolkan salah satu biodiversity dari Indonesia. Karena aku cuma sendiri, kalau ada tim, bisa lebih banyak sumber daya yang bisa kita investigasi. Mudah-mudahan ke depannya bisa dapat chance untuk lebih promote beberapa sumber daya alam kita. 

Proses penelitiannya seperti apa?
Aku programnya minimal 3 tahun ya. Awalnya aku nulis proposal untuk risetnya dulu, ehh terus bosku tanya "What are you doing? What do you want to do here?" Haha.. Terus dikomunikasikan lah dengan beliau.

Selain proposal penelitian, kita juga harus menuliskan mata kuliah apa saja yang akan diambil. Kami diminta minimal 20 ECTS, sisanya penelitian. Setelah proposal di-approve, baru keluar bescheid-nya. Bescheid itu approval dari universitas tentang riset kita selama beberapa mata kuliah yang di approve itu. Lalu saya coba untuk menemukan metode *ketawa entah kenapa* 

Aku lab work, eksperimen di lab. Waktu pertama aku dibantu oleh salah satu mahasiswa Master dari Vietnam. Kita coba establish satu metode baru, untuk analisa aroma, namanya .. *sang penulis enggak ngerti dan kebingungan* , jadi kayak needle untuk absorb, terus diinject ke gaskromatografi (GC), itu salah satu tehniknya. 

Dari situ bisa kelihatan profil aromanya apa saja, dan ternyata ratusan! *ketawa* 
Jadi ada ratusan senyawa di daun pandan, tapi aku identifikasi senyawa untuk risetku dan ada beberapa analisa instrumen lainnya. Tadi GC untuk aroma, kalau untuk analisa carotenoidnya, pewarnanya itu aku pakai instrumen lain... Ya seperti itulah *ketawa lagi*


Alat GC

Jadi tahun pertama, persiapan proposal, submit proposal, dan establish metode yang akan digunakan. Akhir tahun, bos aku minta diseminasi hasil riset sementara dari proses percobaan metode-metode tadi untuk analisanya itu. Waktu itu ke Jerman dan Sweden untuk presentasi disana. 

Jadi sempat ambil mata kuliah sampai tahun kedua, terus ada beberapa seminar yang harus dihadiri, dan professorku udah minta, "Bagaimana? Untuk kelulusan kan diminta publikasi internasional", yang harus terindeks, jurnal yang terakreditasi, bukan jurnal sembarangan, ya dicoba propose. Alhamdulillah, tahun ketiga awal, paper pertama baru keterima, karena ternyata itu butuh 6 bulan sampai 1 tahun sampai diterima oleh si jurnalnya itu. Kita mengirimkan ke editorial jurnalnya, mereka akan lihat ini layak dipublish atau tidak. Kalau tidak layak ya akan direject, "maaf, kurang cocok", dengan bahasa yang lebih halus ya. Saya dapat dua kali surat penolakan cinta dari jurnal *ketawa* oh sedih banget, kita udah riset, begadang, eh ditolak. 

Setelah proposal di approve, ke Indonesia untuk ambil sample daun pandan?
Sebelum ke Wina, waktu itu aku sempat bawa beberapa sample, tapi bukan daun pandan saja, banyak juga daun-daun lainnya, daun jeruk dan sebagainya. Pokoknya ingin promote salah satu tanaman kita lah. Masa kita jauh-jauh sekolah tidak ada yang bisa kita berikan ke Indonesia. Ya setidaknya untuk mempromosikan, mungkin kalau ada teman yang bisa membantu lebih banyak ada beberapa yang bisa aku teliti juga. Tapi sekarang daun pandan saja dulu. Akhir tahun sempat pulang ke Indonesia dan aku sempatkan lagi untuk ambil sample. Sebenarnya disini juga bisa dapat daun pandan cuman dari Thailand dan Vietnam. 

Ada pengalaman menarik selama penelitian? Suka duka?
Wah banyak ya, ini bisa jadi novel haha...
Saya merasa belajar di tingkatan Phd itu, kita harus independent ya. Ini benar-benar dinilai Anda harus indepedent, dari konsep sampai penelitian. Hubungan dengan supervisor, dia hanya sebatas kasih suggestion, beda dengan tingkatan lainnya yang masih di guide. Yang menarik lainnya selain harus bersikap lebih independent, yang pastinya harus lebih dewasa, kita juga diminta untuk tanggung jawab. Kita di lab, yang Phd cuma aku sendiri, ada beberapa teman Master dan Bachelor, jadi sharing knowledge.. menarik diskusi dengan orang-orang yang asalnya beda negara, cukup memberikan masukan ke aku.

Instrumen yg aku pakai agak mahal, jadi harus hati-hati. Kalau rusak, biaya servis mahal sekali. Waktu di Jepang, sampai 3 milyar biaya servisnya. Kita pakai alat tapi harus take care juga. Dengan metode baru (SPMI) yang aku pakai, saat itu alatnya enggak bisa adaptasi dengan baik, jadi bocor gasnya haha.. temanku sih yang pakai, tiba-tiba dia bilang ada danger activity, tapi pas aku coba enggak apa-apa, jadi memang harus take care. 

Kita juga berinteraksi dengan bahan-bahan kimia, kita harus selalu pakai glove dan coat, untuk melindungi kita. Kita membutuhkan bahan-bahan kimia untuk menganalisa senyawa-senyawa untuk memperoleh data primer. Alhamdulillah selama disini enggak ada yang major, tapi waktu di Jepang, glove ku pernah bolong dan terkena nikrogen cair, jadi kapalan, terus ke klinik. Sayangnya disini enggak ada klinik di uni jadi harus langsung ke dokter. Tapi disini safety cukup ditekankan. Kalau mau masuk lab harus tanda tangan satu kontrak, ada effect safety yang harus kita patuhi. Ada salah satu teman di Tulln, beliau pakai jilbab, diingatkan oleh salah satu kepala labnya, "Jilbab kamu jangan pakai salah satu jenis polyester ya", cepat kebakar kalau kena panas. Bagus ya strict tapi memang harus hati-hati. 

Secara singkat, hasil risetnya?
Profil aroma daun pandan, profil pewarna alami dari carotenoid, dan bagaimana aroma bisa terbentuk dari carotenoid, dengan salah satu reaksi enzimatis, dan cukup green chemi. Sekarang banyak istilah green chemistry, kimia yang lebih environmental friendly, jadi pembentukan aroma dari senyawa pigmen dengan reaksi kimia yang environment friendly itu bagaimana. 





Ada efek samping jika berlebihan mengonsumsi daun pandan? 
Sejauh ini menunjukkan banyak banget efek positifnya, bahkan kalau di Indonesia banyak banget tradisional medicine ya, yang herbal, sirsak dan lain-lain. Kalau dari salah satu penelitian lain, dia menemukan salah satu senyawa dari daun pandan, yang namanya pandanin, itu bisa berefek anti virus. Anti influenza virus, anti herpes-- bagus kan. Terus juga anti oksidan juga cukup tinggi untuk meningkatan imunitas tubuh kita. Kemarin sempat melihat bagaimana aplikasi daun pandan ke minyak yang bisa meningkatkan aktifitas anti oksidan minyak, jadi enggak cepat tengik.

  Apa rencana ke depan? Ngajar lagi?
InsyaAllah kalau bisa, langsung ngajar di Jogja, kembali lagi ke kampus biru UGM. Aku sempat ngajar 2 tahun di Jogja sebelum S3. Alhamdulillah, mudah-mudahan ilmunya bermanfaat.


Tuesday, 17 February 2015

Serunya Faschingsumzug di Graz 2015

by Sri Yuliyanti 
Hip hip hura! Selasa pagi (17/02/2015), "Fasching"  memeriahkan Kota Graz, yang dimulai pukul 11.45. "Fasching", yang dalam bahasa Indonesia artinya "karnaval", adalah tradisi sejak tahun 1966 hingga sekarang, yang sebenarnya diawali hanya sebagai lelucon dengan berkostum bebas untuk lucu-lucuan. Karena kegiatan ini menyenangkan bagi orang-orang, dijadikanlah tradisi tiap tahun.

 Atas perhatian pemerintah daerah setempat dan dukungan dari ‘‘Kleine Zeitung‘‘ (koran untuk wilayah Steirmark dan Kärnten), terselenggaralah "Fasching" dengan tujuan meresmikan jembatan utama Graz yang bernama Erzherzog-Johann-Bruecke.

Pusat kota Graz, Herrengasse, Hauptplatz sangat dipenuhi oleh para peserta dan penonton acara ini. Dan keamanan tidak diragukan lagi, karena kesiagaan polisi membuat acara ini berlangsung dengan tertib. Keadaan cuaca cukup dingin, namun tidak menghalangkan semangat dan kemeriahan mereka. Para peserta memakai kostum yg beragam, contohnya seperti Spiderman, Elvis Presley, Naga, Badut, dan banyak yang melukis wajah seperti kucing dan lain-lain.
 
Ada hal yang paling menarik dari "Faching Graz": selain gratis untuk peserta dan penonton, ada juga hadiah untuk peserta yg terbaik dalam hal kreativitas berkostum. Seru bukan! Bagi anak- anak pun banyak keseruan-keseruan yang mereka dapatkan, seperti menggambar, bermain balon, dan aksi badut yang lucu. Spesialnya "Fasching Graz" kali ini, disediakan sebanyak 6000 donat Faschingskrapfen untuk anak-anak tanpa harus bayar. Info dan resep Faschingskrapfen: http://www.wien.info/en/shopping-wining-dining/viennese-cuisine/recipes/faschingskrapfen 


Kemeriahan pun terlihat sampai di ujung acara. Pemberian hadiah dimulai pukul 13.45, di atas panggung "Kleine Zeitung" di jalan Färberplatz. Dan "Fasching Graz" ditutup dengan pembagian hadiah bagi peserta terbaik. 


Selain sebagai tradisi, "Fasching Graz" dimanfaatkan bagi banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, kerabat dan teman-teman dalam situasi yang tentunya berbeda. Kuliner khas pun berjejer di tengah kota yang menambah kehangatan "Fasching Graz" pada musim dingin. Selain terdapat Faschingskrapfen, ada juga yang laris, yaitu langos dan manisan.

 
Untuk tahun berikutnya akan ada keseruan-keseruan apa lagi yaaaaa??!









Tuesday, 10 February 2015

Terpukau oleh "Konser Senandung"


 by Syifa Nurhanifah dan Evi Mulyani

Minggu, 8 Februari 2015, kali lah pertama mahasiswa musik klasik Indonesia mengadakan konser di Vienna. Konser yang bertemakan Senandung ini telah berhasil memikat para hadirin yang jumlahnya hampir 100 orang. Wow, betapa tidak memikat, suara Sopran dua cewek cantik yang sedang study di Vienna Conservatory of Music (Meta dan Indah) ini bertambah memukau seiring dengan dentingan piano yang dimainkan oleh pianist-pianist muda yang sangat piawai memainkan jari-jarinya di atas piano. 

Yup! merekalah Terra, Paulina dan Eudia Lina - Indonesian pianist students yang mengawali bermain piano sejak umur 3, 8 dan 9 tahun. Tak bisa dibayangkan kan, betapa mahir dan piawainya mereka pada saat ini.

Konser yang berlangsung selama 1,5 Jam ini menampilkan karya-karya dari komponist Eropa dan Indonesia seperti J.S. Bach, J. Haydn, G.F. Handel, A. Skrjabin, F. Chopin, M. Reger, M. Embut, Y. Djamin, F.X. Soetopo dan A. Sukarlan. Tak ketinggalan St. Francis of Assisi Church, gereja yang terletak di kawasan Bezirk 2 Leopoldstadt ini telah menjadi tempat bersejarah bagi kesuksesan konser pertama mahasiswa musik klasik Indonesia.
Tujuan utama diadakannya konser ini adalah untuk memperkenalkan bakat dari pelajar musik klasik Indonesia di Vienna, karena dalam kurun waktu 3 tahun ini ternyata jumlah pelajar musik klasik dari Indonesia di Austria kian bertambah. Hal ini pun kemudian diapresiasi oleh Romo Yohanes Monteiro dari KKIA (Keluarga Kristen Indonesia Austria) yang kemudian menggagas dan mengorganisir konser ini.

Ditanya tentang persiapan, kawan-kawan kita ini memulai perencanaan tentang waktu dan durasi konser semenjak Oktober 2014. Sedangkan latihan bersama (antara penyanyi dan pianist) dimulai pada bulan Januari 2015. Secara pribadi kawan-kawan kita ini merasa sangat senang sekali setelah konser, karena mereka tak menyangka bahwa publikum yang hadir begitu banyak dan support yang diberikan oleh warga KKIA pun begitu sangat besar pada mereka.
Kami dari Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Austria sangat bangga terhadap prestasi kawan-kawan kita ini di kancah musik klasik. Semoga konser ini mengawali kesuksesan konser-konser selanjutnya. Hut ab! ;-)


Sunday, 1 February 2015

Akhirnya, Pemilu!




Setelah 2 tahun tidak ada pemilihan ketua PPIA (tahun 2012/2013 dan 2013/2014), akhirnya anggota PPIA bisa “nyoblos” lagi.

Bedanya, untuk pemilihan ketua 2015/2016, para pemilih “nyoblos” lewat online voting. Thanks to the IT expert, Ketua DMA Peb Ruswono Aryan (panggil saja Peb).

Setelah selesainya tugas Pandu Bramono sebagai ketua PPIA 2013/2014, ketua DMA mengadakan pendaftaran ulang anggota PPIA, dan pada saat itu belum ada yang mendaftar sebagai calon ketua baru. Pemutakhiran data anggota dan pendaftaran calon pemilih berlangsung pada 13 s/d 24 Oktober 2014. Pada saat itu juga ketua DMA membuka pendaftaran bakal calon ketua PPIA hingga 20 Oktober 2014.

Sampai saat itu, belum ada yang mendaftar sebagai calon ketua, sehingga waktu pendaftaran diperpanjang. Pada pertengahan November, kawan kami Raditya Subagia mencalonkan diri sebagai ketua, dan pendaftaran pun masih dibuka.

Calon kedua pun mendaftarkan diri, yaitu Syifa Nurhanifah, pada 19 Desember 2014. Kampanye dan online voting diadakan pada 5 s/d 9 Januari 2015 dan ditutup pada 9 Januari, 12 malam.
Dari 55 anggota baru, yang berpartisipasi sebanyak 44 orang, dengan suara terbanyak untuk Syifa Nurhanifah (26 votes).

Sertijab diadakan pada 17 Januari 2015, dimana Syifa dilantik oleh wakil dubes KBRI Wina Bapak Febrian Alphyanto Ruddyard dan dihadiri juga oleh pensosbud KBRI Bapak Dody Sembodo Kusumonegoro.


Sedikit tentang misi dan visi Syifa, yaitu memperkuat kestabilan existensi dan identitas PPI Austria sebagai organisasi pelajar yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan yang KRITIS, AKTIF dan PRODUKTIF.

Congrats, Syifa Nurhanifah. Semoga visi misinya dapat tercapai dan kabinet baru dapat berkerja sama dengan baik. Selamat bekerja!