Tuesday, 30 June 2015

Mentari Vienna

Suatu hari di musim Summer pada salah satu kafe di Vienna, dua mahasiswi sedang mencicipi kopi kesukaan mereka sambil menikmati teriknya matahari, ketika suatu percakapan pun terjadi.

X: Pernah denger “Mentari” belom? Udah pernah liat?

Y: Aneh lo, emang gw tinggal di gua, ya udahlah.. tiap hari juga gua liat mentari apalagi klo Summer, panas nya tuh bikin item!

X: ooh emang lo tinggal di gua, yang dimaksud “Mentari Vienna” bukan Mentari matahari!

Y: heh? Maksud lo?

X: Iya, jadi di Vienna itu ada group vocal dari anak-anak indo yang namanya “Mentari”. Gila deh suaranya bagus-bagus banget!

Y: Oh ya?? Lo tau dari mana?

X: lo sih ga gaul..

Y: yaelah..

X: gua ngeliat show mereka di Luftbadbar. Yang nyanyi kece-kece banget, suaranya juga ok banget.

Y: lo kenal mereka?

X: kenal dong, mereka itu Anggi, Meta sama Enya. Mau denger suara mereka, nih disini:

https://plus.google.com/app/basic/photos/111451987724969257960/album/6147109602974812353/6147109603395060866?authkey=CJiropP-_riwGw


Y: eh bagus nih, kapan mereka adain show lagi?

X: gua ngga tau sih, tapi klo lo mau update tentang mereka, like Fanspage mereka disini:
https://www.facebook.com/pages/Mentari-Vienna/386092148247558?fref=ts

Y: Sip deh ntar gua like! :)










Buka Bersama di Graz


 by Syifa Nurhanifah
Images by Sri Yuliyanti and Vina



Salah satu hikmah dari bulan Ramadhan adalah “nikmatnya kebersamaan”. Jika dibandingkan dengan bulan-bulan selain bulan Ramadhan, acara makan bersama itu tergolong sesuatu hal yang “jarang terjadi” mungkin bisa dikatakan yah paling sering sebulan sekali makan bareng teman-teman. Selebihnya ya kita sibuk masing-masing.

Tetapi ketika Ramadhan datang, rasa kebersamaan itu seakan sebuah kebutuhan yang jika tak dipenuhi terasa tak afdhol Ramadhannya. Seminggu pun bahkan bisa 2 sampai 3 kali ada acara “Iftar” (atau kalo orang Indonesia bilangnya Bukber). Apalagi yang tinggal di Wina, asyik bener deh kalo udah Ramadhan, ada KBRI dan Wapena yang selalu mengadakan Bukber ini tiap minggunya dengan menyuguhkan makanan-makanan Indo dan kajian Ramadhan.... mmmmm... bikin hilang rasa kangen kampung halaman :D


Kebersamaan adalah juga merupakan “pondasi” dari sebuah Komunitas yang harus dijaga kekokohannya supaya komunitas ini tetap berdiri kuat. Berangkat dari semangat inilah, PPI Austria juga mengadakan acara Bukber di bulan puasa ini yang bertujuan untuk terus memupuk tali silaturrahmi dan keeratan antar anggota. Dan kali ini yang mengadakan Bukber adalah teman-teman PPI di Graz! Lho kenapa Graz?? Jawabannya bisa kalian dapatkan setelah selesai membaca artikel ini ;)

Kalo boleh saya jujur, saya sangat bangga dan salut terhadap temen-temen PPI yang hidup di Graz. Kekompakkan dan solidaritas mereka sesama mahasiswa dari Indonesia bisa dikatakan menakjubkan.. hehe
Dibawah Komando wanita-wanita luar biasa seperti Mbak Marini, mbak Nursis, mbak Ossy dan dan mbak Fitri bumbu-bumbu dan sayur mayur itu disulap menjadi sebuah makanan yang sangat lezat... ada es campurrrr dan teh manis sebagai minuman pembuka, kemudian ada Ayam balado, tempe bacem, cap-cay dan Bakso sebagai menu utama, dan terakhir ada tiramisu dan kue bolu... sertaaaaa melon! :D (yang batal hadir.. pokoknya nyesellll deh! :P )

Saking senengnya ada banyak makanan ini sampai lupa klo perut saya kecil :D bersama-sama dengan mbak Ossy kita terkapar kekenyangan :D :D (ups.. :P )

Ketika yang lain ketawa-ketiwi dengan banyolan si Jo kita berdua cuma bisa nyengirr aja sambil mengelus elus perut mencoba mencari celah untuk bernapas.

Memang beda kalo kita bukber bareng sesama student, ngga ada deh jai’im-ja’iman. Kultum-pun bukan mengupas sekitar tema Ramadhan melainkan tentang Paper dan tugas-tugas kuliah :D menunggu waktu sahur pun bukan dengan tidur, melainkan dengan diskusi dan sharing pengalaman.. luar biasa! :D :D

Terima kasih banyak untuk temen-temen di Graz atas dedikasinya mengadakan Buka puasa ini. Acaranya sukses banget! Buat yang batal hadir mas-mas dari Wina, Sisko, Bram, Peb, mas helmy, mas khoiri juga yang dari Leoben mas Andy dan Anda, salam kalian udah saya sampaikan pada panitia di Graz.. hihi :D


Salam kompak selalu!


Monday, 29 June 2015

Phd Story: Andi Abidah (Arsitektur Wina)

by Evi Mulyani

 




















"Phd Story" kali ini datang dari seorang "newbie" Phd dan "newbie" anggota PPIA asal Sulawesi yang bernama Ibu Andi Abidah. Di Wina sejak Agustus 2014, beliau sedang menenuki program Arsitektur di TU Wien. Gelar S2 didapatkannya di ITB dalam program Arsitektur Rancang Kota (Urban Design). PNS sejak 2006 hingga saat ini, beliau sempat mengajar di Universitas Makassar.

Ibu satu anak ini menyempatkan waktu untuk chit chat dengan tim PPIA. Yuk, dibaca hasil obrolan pendek kami tentang penelitiannya pada salah satu rumah tradisional Indonesia.

Tapi jangan kaget ya, ibu Andi ternyata suka ngelucu... :)

  •  Program Phd apa yang sedang diambil?  
    • Phd? Ngeri banget euy. Nama jurusannya "Faculty of Architecture and Regional Planning" di Vienna University of Technology.
  •  Bagaimana penelitiannya? 
    •  Proyek yang dijalani banyak di Indonesia. Penelitian saya kebetulan di Indonesia dengan tema "Arsitektur Bugis Tradisional House".
  • Ohya? Bisa dijelaskan lebih spefisik topik penelitiannya?
    • Ngerti banget euy pertanyaannya. Tapi risetnya tentang perbandingan rumah bangsawan dan rumah biasa. Kemudian membandingan rumah orang Bugis yang beragama Kristen dan beragama Islam. Apakah proses mendirikan rumah tersebut tetap sama atau berbeda, dan sejauh mana perubahannya rumah Bugis.
  • Apa saja tantangannya?  
    • Tantangannya banyak. Salah satunya menelusuri makna-makna filosofi yang ada pada elemen rumah.
  •  Contohnya?  
    • Contohnya orang Bugis itu memandang rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai tempat dilahirkan, dibesarkan, menikah dan meninggal. Mereka memegang filosofi sulapa eppa (segi empat) dimaknai sebagai air, udara, angin, dan api. Selain itu, tangga sebagai simbol laki-laki karena laki-laki bertanggung jawab memberi nafkah sama istrinya dan keluarganya. Sementara core pole (tiang inti) adalah simbol perempuan, yaitu wanita adalah inti dari kehidupan rumah tangga, menejemen uang dan lain-lain.
  •  Suka duka dalam menekuni program ini? 
    •  Sedikit ribet karena selama ini saya kurang paham tentang tradisional house. Sukanya, saya bisa pulang kampung riset. Dukanya tidak punya uang bulak balik survey, hehehe. Karena tidak ada biaya survey dari beasiswa, jadi harus menabung.
  •  Sejauh ini penelitiannya seperti apa?  
    • Sebelumnya saya kurang begitu tertarik dengan namanya sejarah, menelusuri sesuatu yang telah terjadi. Tetapi setelah saya mendalaminya, ternyata menarik. Saat ini saya masih mengumpulkan literatur tentang rumah bugis. 
    • Dan mengumpulkan literatur itu menurut saya sedikit susah karena harus melirik kebelakang, yang mungkin saat ini sudah tidak bisa kita temukan, karena masyarakat lebih memilih modern house.
    • Februari kemarin saya ke Leiden University Belanda untuk mencari data tentang rumah bugis. Disana banyak buku tua, bahkan lontara suku bugis ada disana, original ada disana. Diangkut pada jaman penjajahan Belanda sepertinya. Bukan hanya rempah-rempah saja ya diangkut, hehe. Dan alhamdulillah disana banyak data rumah bugis jaman bahela.
  • Apa rencana ke depan?
    • Rencana selesai 3 tahun. Ya saya berharap kelar studi 3 tahun dan bisa pulang ke Indonesia dan mengabdi disana.
  • Kegiatan selain Phd apa nih? :)
    • Hobi numpang makan di rumah Yusfan (waktu PPI) hahaha. Iya itu si Yusfan jago banget kalau masak, saya langsung teringat masakan mamaku. 
    • Jalan-jalan juga, hehe. Naik trem satu ke trem yang lain, hehe. Dan kalau dapat view yang bagus langsung singgah dan take picture
    • Saya juga hobi jalan-jalan di Mariahilferstrasse, dari ujung ke ujung, hehehe. Uangnya enggak cukup buat belanja jadi cuman tawaf doang disana, hehehe.

    Saturday, 27 June 2015

    Berbuka Puasa yang Sederhana

    Bagaimana ya cara berbuka puasa yang baik, benar, dan sehat?

    Apalagi dengan kehidupan student yang sangat sibuk, kadang tidak ada waktu untuk cari-cari informasi seperti ini dan mungkin tidak ada waktu banyak untuk belanja juga, jadi terkadang sahur dan buka pun dengan makanan ala kadarnya (bukan curhat...)
     
    Tapi memang hal ini perlu diperhatikan agar tetap sehat dan fit dan beraktivitas dengan baik. Simple kok.

    Sebenarnya menu berbuka puasa, menurut saya, cukup yang sederhana saja. Walaupun tidak banyak variasi, yang penting kita mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. 

    Dan yang pasti, untuk mencegah dehidrasi, harus minum banyak air putih pada saat sahur dan malam hari setelah berbuka puasa.

    Pada saat berbuka puasa, sebaiknya diawali dengan mengonsumsi minuman yang hangat dan manis, seperti teh, air madu, dan kolak dan makanan manis seperti kurma. (Minuman yang bersoda dan air dingin sebaiknya dihindari karena akan meningkatnya kadar asam lambung.)

     Sebaiknya, setelah berbuka puasa dengan minuman hangat dan manis, tidak langsung mengonsumsi makanan yang berat. Menurut saya, minum teh manis dan makan kurma sudah cukup. Perut perlu istirahat untuk menjaga keseimbangan pada pencernaan kita beberapa menit sebelum menyantap menu-menu lainnya.

    Berburu-buru makan juga tidak baik, karena lambung harus bekerja lebih keras. Kunyahlah makanan dengan baik agar meringankan kerja pencernaan.

    Hal utama yang menurut saya penting adalah sayur-sayuran, buah-buahan, dan ikan atau ayam. Jika tidak sempat makan buah karena telat bangun untuk sahur (hehe..), bisa juga mengonsumsi suplemen vitamin C yang dapat di beli di Apotheke sekitar. 

    Tapi entah kenapa ya saya selalu tergoda dengan chips dan gorengan ketimbang buah-buahan dan sayuran. (it is only me?) Ternyata pengontrolan diri tidak hanya pada saat puasa, tapi juga setelah puasa, yaitu mengontrol diri untuk makan makanan yang sehat ketimbang yang enak tapi tidak sehat, hehe.



    Friday, 26 June 2015

    Wachau: Wuah, Cantiknya Engkau

    by BlangA*

    Nah, kali ini tim BlangA (bocah ilang Austria), menghilangkan diri sejenak dari ke-hirukpikuk-an masalah studiawi. Pas pula lagi spring menjelang summer, kali ini kami menjelajahi salah satu keajaiban alam Austria yakni Wachau…eng ing eng…

    Kali ini, BlangA melakukan 3 seri petualangan di sepanjang Wachau, yaitu Durnstein, Melk, dan St.Lorenz-Rossatz.

    Durnstein Castle

    Dimulai dari perjalanan pertama ke Durnstein dilakukan akhir April lalu saat dedaunan masih hijau ‘stabilo’. Wachau sangat mudah diakses dari Wina. Dengan menumpang S-Bahn (S40) dari stasiun Franz Joseph, hanya membutuhkan waktu sejam ke pemberhentian terakhir di Krems an der Donau. Dari Krems bahnhof kita bisa memilih bus WL1 atau WL2 menuju Melk.

    Pesona Danube River

    Petualangan kali ini mengunjungi salah satu spot yang paling sering dikunjungi di Wachau, Durnstein castle. Dari Krems bahnhof, Durnstein dapat diakses menggunakan bus WL1. Di sini, BlangA melakukan sesi pemotretan dan mengunjungi seluk beluk kastil itu sendiri. Akses ke kastil ini cukup mudah ditemukan namun sedikit membuat ngos-ngosan juga akibat curamnya medan. Namun, itu semua terbayar dengan pemancangan donau yang begitu apik nan ciamik. Aliran Donau di cekungan membelah lembah Wachau bagaikan montase yang tak terputus dari bawah hingga ke puncak. Kontras daun muda berpadu dengan biru langit dan kuning bunga semak musim semi saat itu membawa kami merasakan suasana yang nyata, yang biasanya hanya bisa kami nikmati di tipi tipi pajangan toko elektronik.

     Hijau Stabilo

    Kastil yang hampir saja dihancur-leburkan oleh kekaisaran Swedia ini sendiri merupakan salah satu bagian sejarah abad pertengahan yang dibangun sebagai benteng pertahanan. Di sekitarnya, terdapat beratus-ratus hektar kebun anggur yang menjadikan pula Wachau sebagai penghasil wine nomor satu di Austria. Yang menarik dari kastil ini adalah struktur bangunannya yang terbuat dari batu. Gak kebayang waktu itu ngangkut batu dari bawah ke atas dengan kecuraman seperti itu.

    Bekas Sejarah

    Perjalanan kedua (bulan Mei) dimulai dari Melk, kota yang terkenal dengan biara gaya baroquenya yang masif, sekitar 1,5 jam dari Wien dengan kereta regional yang mengarah ke Salzburg. Sebenarnya di rute resminya jalur trekking di hulu Wachau ini dimulai dari Emmersdorf dan berakhir di Melk. Tapi berhubung yang ngejalanin nggak mainstream, jadilah jalannya ke Emmersdorf dan kembali ke Melk dengan bus WL1.

    Willkomen in Melk! *nyemplung ke Donau*

    Perjalanan diawali dengan menyusuri pusat kota Melk dan mengarah ke Sungai Donau. Sambil menyeberang Donau dari atas jembatan kita bisa memotret kapal yang lewat dengan latar biara Melk di perbukitan kayak yang suka dipajang di website pariwisata. Di ujung jembatan ada PLTA Melk dengan Portalkran-nya yang seperti gerbang dan salah satu dari sembilan ship lock yang ada di Donau wilayah Austria.

    Biara Melk yang megah

    Turun dari jembatan kita akan tiba di pulau kecil yang difungsikan sebagai area konservasi PLTA. Di sana ada fishway yang memudahkan ikan lewat tanpa nabrak bendung dan berbagai spesies burung dan serangga yang dilestarikan. Karena pulau ini diapit Sungai Donau dan Donausee, maka banyak lokasi menarik seperti: spot mancing di pinggir Donau tempat pemancing ‘super serius’ dengan 6 pancingannya yang berderet-deret, padang rumput termpat leyeh-leyeh dan main air di Donausee, dan dermaga klub yatch di pertemuan Donau dan Donausee dengan kapal-kapalnya yang bikin ngiler.

    Duduk-duduk sambil main air di Donausee

    Setelah menyeberang pulau dan tiba di sisi utara lembah, ada Schloss Luberegg, yang sekarang difungsikan sebagai gasthaus, dan tanjakan melewati pedesaan Hain dan peternakan kuda. Di ujung desa jangan ragu untuk masuk ke hutan ― walaupun kelihatannya seperti jalan masuk hutan Narnia tapi dijamin memang itu jalurnya. Setelah melewati pepohonan yang kanopinya menjulang hijau-hijau seger dan tanjakannya bikin ngos-ngosan, di ujung bukit ada menara pantau (Dachberg-Warte) setinggi 383 m yang pemandangannya lebih heboh lagi. Kalau berminat masuk menara, kayak di game adventure kita harus pinjam kuncinya di rumah no.5 di desa berikutnya yaitu Rantenberg.

    Yang berminat masuk silakan ambil kuncinya sendiri

    Setelah melewati pedesaan, peternakan keledai, dan hutan yang (untungnya) menurun, sampai deh di tujuan akhir Emmersdorf. Berhubung bus WL1 cuma lewat sejam sekali, silakan menikmati nunggu di halte Emmersdorf yang kayak aquarium sambil memandangi Donau!



    Salam dari penghuni Emmersdorf-Melk!
     
    Penjelajahan ketiga dilanjutkan minggu kemarin (medio juni) saat cuaca di seputaran Wachau cerah panas. Keinginan untuk menceburkan diri ke Danube pun menyeruak. Akhirnya, dengan menumpang WL2 (minibus) dari Krems, BlangA berangkat dengan tujuan awal St. Lorentz. Awalnya tim merencanakan turun di Rossatzbach, namun karena ingin menyusuri cekungan Donau di Wachau dari barat ke timur maka kami putuskan untuk turun di St. Lorentz.

    Hiii…dung

    Dari St. Lorentz tim menyusuri pinggiran Donau membelah perkebunan anggur, apel dan marillen (prakiraan mama Loren bakal panen agustus ini). Sungguh pemandangan yang luar biasa. Tak terasa lima kilometer berjalan kami sampai di jembatan yang menghubungkan daratan Rossatz dengan sebuah pulau. Saat sampai di sana, kami ter-nganga karena begitu banyak batu terhampar di pinggir Donau yang saat ini sedang digandrungi kebanyakan masyarakat kita. Yap, batu akik!. Hamparan ‘batu akik’ ini menggoda kami berlama-lama di situ.
     

    Hamparan kebun anggur

    Setelah cukup mengumpulkan oleh-oleh batu akik, kami bergerak lagi ke pulau sebelah dan kemudian beristirahat lama di situ. Sisi ini tepat berada di seberang durnstein sehingga kastil durnstein menjadi latar depan pemandangan kala itu. Kenyang menyantap bekal, kami pun bermain air alias ‘mandi di Donau’. Meskipun airnya lumayan dingin dan arus yang cukup deras terutama akibat lalu lalang kapal pesiar, tak menyurutkan antusiasme kami. Kapan lagi coba merasakan berenang di Donau, pikir kami.

    Sisi misterius Rossatz

    Sisi misterius Rossatz

         
    Pesona Rossatz beach

         
    Pesona Rossatz beach

         
    Pesona Rossatz beach

    Tak terasa sekitar tiga jam di sana puas bercengkerama dengan air dan alam, kami beranjak menelusuri hutan kecil yang terbentang di pulau tersebut. Seru bercampur khawatir tersesat menjadi bumbu perjalanan saat itu, sampai-sampai karena memang tersesat akhirnya mau tidak mau kami terpaksa menyeberang kali/sungai kecil karena cuma itu akses satu-satunya ke daratan sebelah. Terpaksa melepas sepatu dan celana pun basah. Dan akhirnya, bertemu lagi dengan peradaban. Tak dinyana ternyata di belakang hutan tersebut desa Rossatz berada.

    Menyeberangi kenyataan…

    (To be continued…)

    Bibliography:
    Kalau ada yang penasaran ‘Wachau’ itu daerah mana: di lembah Donau, Niederösterreich
    Kalau mau tahu ada berapa sebenernya jalur trekking di Wachau: banyak, lebih dari selusin
    Kalau nggak mau nyasar di tengah jalan: install appnya di gadget (android) (apple)
    Kalau mau tips lebih banyak lagi tentang Wachau: korek-korek aja di website resminya
    Kalau tertarik dengan jalur trekking lain di sekitar Wachau: silakan dibrowsing sesuai minat
    Kalau makin tambah penasaran: ayo siapin tas-nya…berangkattttt


    *BlangA kali ini terdiri dari Ifan, Rasmi, Dhota, Arla, Abidah, Ulfah, Natali, Kartika, Sita serta guest traveler mas Agung.

    Menjawab pertanyaan, "Why do you fast?"

    Pada awal bulan puasa, flatmates saya menghampiri saya, "Are you doing Ramadhan fasting? When do you start?"

    "Yes.18th June. How do you know?"

    "Last year you told me it's somewhere in June, so I was searching in the internet when it is."
    Lalu mereka menanyakan hal-hal basic seperti, "berapa lama berpuasa? berapa jam? enggak boleh minum juga? kapan boleh makan lagi? terus kamu harus ngapain aja selama berpuasa?"

    Rasa penasarannya pun terus berkembang. Beberapa hari kemudian, flatmate saya sempat bertanya-tanya pada saya, "Are you okay? Do you feel hungry? How do you feel? Weak? Dizzy?"

    Terlihat jelas sekali dari ekspresinya bahwa ia khawatir. Saya merasa tersentuh dengan perhatiannya. Saya berkata dengan jujur bahwa rasa lapar pasti ada, tapi saya merasa baik-baik saja dan sedikit menghiburnya agar tidak terlalu khawatir.

    "I feel fine. But if I faint, you have to take me to the hospital."

    (Malah tambah khawatir ya, hehehe)

    Pertanyaan selanjutnya adalah, "Why?"

    Terus saya jawab, "Ya Google aja kali."-- nope, I didn't do that, of course.

    Mungkin kalian juga pernah mengalami hal yang sama dan tidak tahu bagaimana menjawabnya. Berdasarkan pengalaman saya, kalau menjelaskan dari segi agama, it doesn't seem to work (unless that person is interested in religion and fulfilling spiritual needs). Kalau dari segi self-development, ada yang mengerti ada yang enggak.

    Terus saya berfikir, bagaimana caranya agar ia mengerti dan menerima? (maksudnya supaya enggak khawatir lagi sama saya, hehehe)

    Sampailah saya pada konklusi, bahwa...
    Saya harus tahu siapa mereka, apa pandangan mereka, apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka anggap penting. Sama halnya dengan promosi suatu produk, kita harus kenal target kita untuk tahu apa yang harus disampaikan. Pandangan orang Barat pada umumnya butuh penjelasan yang ilmiah.

    "According to some scientific researches, there was a research from UniWien, fasting is actually healthy. It has health benefits," saya mencoba menjawab.

    Ada yang mengangguk dan setuju karena mereka sendiri pernah baca, ada yang mengangguk namun dia berkata, "But I could never imagine myself not eating."

    Hm, saya berfikir lagi. Akhir-akhir ini flatmate saya beberapa kali dalam seminggu melakukan olahraga untuk menurunkan berat badan dan asupan makanannya dijaga. 

    A lightbulb pops in my head.

    "It makes you skinnier. I have lost some weight."

    "Really?" 

    Nada suaranya terdengar lebih ceria. Dan ketika saya merasa sudah di level yang sama, barulah saya menjelaskan salah satu manfaat puasa itu.

    Tubuh kita ketika kelaparan akan membakar dan mencerna lemak dan menjadikannya energi, dan tentunya, puasa juga proses detoxification. Racun di dalam tubuh akan dihancurkan dan dikeluarkan oleh tubuh. Puasa sebaiknya dilakukan dengan benar seperti asupan makanan yang bernutrisi ketika sahur. Tentunya dari segi spiritual juga banyak manfaatnya, namun agar teman-teman saya bisa menerima penjelasan saya, saya jelaskan dari segi kesehatannya, hehe. 

    Dari situ lah, mereka mulai menerima, walaupun pertanyaan seperti "Do you feel okay to be hungry?" masih suka dilontarkan olehnya.

    And the only thing I can say is, "It is all about the mindset. If you really want to do it and if you think you can, you can. I have done this many times and nothing bad happened."
    Well, that is kind of a philosophical approach, hehe.

    Semoga ini dapat membantu kalian yang diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan serupa. Hanya tips dari pengalaman pribadi :)

    Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya :)


    Be Active during Ramadan!

    by Syifa Nurhanifah, Evi Mulyani


    Menjalankan puasa di musim panas di Eropa tengah memang tidak mudah, selain panas menyekat juga jarak antara terbit dan terbenamnya matahari mencapai sekitar 18 jam, juga ditambah dengan godaan godaan lain dari orang-orang disekeliling kita yang mayoritas tidak berpuasa, mantap sudahlah tantangan-tantangan bagi kaum muslim yang berpuasa di bulan Ramadan ini.

    Bagi yang baru pertama kali merasakan bagaimana menjalankan ibadah puasa yang lamanya 18 jam ini pasti rasanya sulit sekali dan terkadang berpikir untuk menyerah. Ditambah lagi ketika kita merasa sendirian, sahur sendiri.. buka puasa sendiri. Sediih rasanya tuh (maklum di Salzburg kan ngga ada wapena)

    Tapi seiring berjalannya waktu perasaan sedih itu kian sirna, ketika saya mulai mengenal beberapa teman-teman muslim di tempat kuliah, tepatnya teman-teman muslim dari MJÖ (Muslimische Jugend Österreich).  Pada awalnya waktu itu saya diundang Iftar bareng mereka, kemudian juga diundang di acara-acara lain seperti kajian ramadan dan yang terakhir di undang untuk ikut dalam Projekt mereka ”Ramadan, Teilen ohne Grenze” atau kalo dalam bahasa Indonesia ”Ramadhan, berbagi tanpa batas”. Sebuah Projekt yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran sosial, solidaritas dan keterlibatan partisipatif anak-anak dan remaja muslim di Austria terhadap masyarakat, terutama terhadap mesyarakat yang membutuhkan.

    Melalui Projekt yang biasa disebut dengan FTH (Fasten, Teilen Helfen) ini  kaum muda muslim di Austria memiliki peluang untuk saling membantu dan saling berbagi selama menjalankan puasa dan bersama sama beribadah kepada YME. Dari yang biasanya diam di rumah sendirian menunggu waktu buka puasa, menjadi keluar rumah aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial membersihkan kuburan muslim, mengunjungi panti-panti jompo, panti asuhan, dan juga masyarakat pengungsi (Refugee) untuk memasak dan sekedar meluangkan waktu bersama mereka.


    Belajar mengenal Ramadhan dari segi sosial dan segi spiritual yang berbeda adalah hal yang ingin di capai MJÖ dalam projekt ini. Pertama kali saya mengikuti Projekt ini adalah tahun 2013 di Lebenshilfe Salzburg, rumah panti jompo dan orang-orang cacat. Disana kami dari MJÖ bersama orang-orang yang tinggal di panti ini bersama-sama memasak apple cake. 

    Bagi saya pribadi pengalaman memasak bareng orang-orang di panti ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berinteraksi bersama orang-orang yang memiliki “cara berkomunikasi yang berbeda” ini membuat hati saya luluh, apa lagi melihat senyum lebar dan garis tawa dalam wajah mereka. Hal ini bukan saja membuat saya sendiri bahagia, namun insha Allah juga bagi mereka penghuni panti.



    Berangkat dari pegalaman pertama, saya memiliki semangat untuk tetap mengikuti Projekt ini di setiap tahunnya, dan Alhamdulillah saya diberikan kesempatan lagi untuk mngikuti Projekt ini di Wina tahun 2015 ini. Dan alangkah lebih senangnya lagi kali ini saya ditemani oleh teman sesama suku- Evi Mulyani (Danke Evi, fürs Mitmachen!). 

    Bertepatan dengan “Weltflüchtlingstag” tgl 20 Juni lalu, kami tim dari FTH mengajak anak-anak dari keluarga pengungsi untuk berekreasi ke Cobenzl tepatnya ke Kinderbauernhof untuk mengunjungi hewan-hewan ternak dan mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan mereka disana. Ada 20 anak yang ikut dalam rekreasi ini dan berumur mulai dari 3 sampai 14 tahun. Anak-anak yang mungkin sangat jarang sekali atau bahkan tidak memiliki kesempatan bisa berekreasi ini terlihat sangat bahagia ketika mereka kami jemput dari rumah penampungan dan bersorak sorai “Ich bin dabei” Ich bin dabei!!”. Kebahagiaan itu amat lagi bisa terlihat ketika mereka berlarian mengejar kelinci-kelinci dan kucing, memberikan kambing dan domba makanan serta melihat kehidupan keluarga ayam dan itik-itiknya.

    “Anak-anak memang melelahkan untuk di awasi, namun kelelahan itu sirna ketika kita menyaksikan anak-anak itu tersenyum lebar karena bangga telah memberikan kambing makan. Tak perlu lah kita mengeluarkan banyak uang untuk bersedekah, apalagi kita yang masih sulit ini, namun cukup senyuman dan menghadiahkan waktu kita untuk mereka  insha Allah jg termasuk sedekah.” Evi.


    Tak terasa waktu terus berjalan. 5 jam lebih kami menghabiskan wktu bersama anak-anak ini. Tapi selama 5 jam tersebut tak sekalipun lapar dan dahaga  kami rasakan. Yang terasa adalah perasaan Fit dan Energik bersama anak-anak ini. Pulang-pulang langsung saaatnya mempersiapkan buka puasa.

    Inilah manfaat yang besar dari aktifitas ini di bulan Ramadhan. 18 jam itu terasa akan sangat cepat berlalu jika kita mengisinya dengan berbagai aktifitas yang membuat kita lupa akan “perut kosong” kita, dan Insha Allah, Allah meridhai segala aktifitas yang bisa memberikan manfaat positif kepada yang lain.

    Untuk yang ingin bergabung dalam Projekt FTH ini, silahkan untuk mendaftarkan diri di link berikut: http://ramadan-helfen.at